ANTARA KEMBALI KE TANAH IBU PERTIWI ATAU MENETAP DI NEGERI ORANG

    Semalem gue ngeliat salah satu video di tiktok yang ngebahas masalah LPDP dimana si mba pewawancara itu bilang “Gapapa kalau nanti kamu balik cuma jadi tukang bakso, tukang mie ayam atau pedagang kaki lima whatever-lah, the point is yang penting kamu balik ke Indonesia ga peduli nanti di Indonesia nasib kamu kaya gimana” dan saat itu bintang tamunya adalah bapak Yanuar Nugroho dimana beliau merupakan mantan salah satu penerima beasiswa LPDP, beliau menanggapi “Kita tu kudu humble dan bisa nerima kalau negara sendiri ga bisa menjamin kamu bakal bisa dapat job atau tidak di Indonesia setelah kamu balik…”. 

    Apa yang beliau sampaikan memang benar, toh as a development country kaya Indonesia  apa yang bisa diharapkan? sedangkan permasalahan mengenai pengangguran masih menjadi isu tahunan yang sampai sekarang aja masih sering dibicarakan, kalau kaya gitu negara mau bisa ngejamin dari mana? So, ga heran dong kalau akhirnya banyak para awardee LPDP yang akhirnya memutuskan buat menetap di negara mereka belajar ketimbang balik ke negara sendiri yang ga bisa ngejamin buat dapet job di negara sendiri sedangkan kebanyakan orang yang lulus kuliah mereka langsung bisa dapet tawaran kerja disana plus dikasih jaminan mulai jaminan hidup, tempat tinggal bahkan kesehatan. Yang jadi pertanyaan kenapa Indonesia sendiri ga bisa kaya gitu? kenapa negara sendiri ga bisa ngasih jaminan untuk warganya sendiri? 

    Menurut pendapat gue jawabannya adalah komitmen pemerintah yang masih labil dalam peran untuk memajukan negara dan pandangan pemerintah Indonesia yang MASIH aja bersifat individualis lebih mementingan kepentingan pribadi daripada kepentingan bernegara. That why! pemerintah sendiri ga bisa 100% menjamin para awardee LPDP bakalan bisa langsung dapat job di negara sendiri dan ujung-ujungnya pemerintah malah ribut nyalahin penerima beasiswa yang ga balik ke Indonesia lagi after their finish the study there instead of pemerintah Indonesia yang introspeksi ke diri mereka sendiri. 

    Esensi dari “Kembali lagi ke Indonesia after study abroad” buat Indonesia, udah ga ada artinya sama sekali. Buat apa kuliah udah jauh-jauh ke negeri orang ketika balik malah kurang dihargai bahkan tidak dihargai sama sekali. Contoh paling nyata dan paling membekas di sejarah adalah ketika bapak B.J Habibie yang udah berjuang mencurahkan segala ilmu yang beliau dapat dengan ambisi ingin membuat pesawat buatan Indonesia sendiri tapi malah banyak pihak yang mencemooh dan parahnya justru memfitnah dan mengkambing hitamkan bukannya mendukung dan men-support apa yang telah beliau usahakan dengan susah payah yang akhirnya membuat bapak B.J.Habibie memilih untuk kembali ke Jerman ketimbang menetap di negara sendiri (Ya walaupun bapak Habibie kembali lagi ke Indonesia di masa tuanya). Dan masih banyak lagi hal-hal/ambisi-ambisi anak bangsa yang sudah berjuang belajar di negara orang dan ketika kembali dan ingin merealisasikan ambisinya malah dibuang oleh negara sendiri. 

    Well sebenarnya sikap “Kurang Menghargai” di Indonesia udah kaya penyakit yang berkepanjangan dan kayanya udah ga ada obatnya, ga usah jauh-jauh deh, sesimpel anak-anak SMK yang mereka udah buanyak bgt ngasih inovasi yang kalo negara bisa menghargai dan bisa men-support secara penuh hal itu bisa lho jadi peluang buat negara ngebuka lapangan kerja baru dan bahkan bisa naikin income negara, tapi apa yang terjadi? inovasi-inovasi yang udah dibuat anak-anak SMK itu cuma masuk berita dan done, ga ada kelanjutannya lagi, lah negara ngapain? lagi sibuk nyari usaha untuk memperkaya diri sendiri *uhuk. Ada juga berita bapak-bapak yang dia bikin inovasi yaitu motor yang mana bahan bakarnya pake air, that insane, right? tapi apa yang pemerintah lakukan? GA ADA, negara malah justru sibuk sendiri ngurusin proyek-proyek dalam negeri yang ga jelas. 

    Selama sesimpel menghargai potensi apa yang ada di dalam negeri pemerintah sama sekali ga concern, ataupun dari pemerintah sendiri ga ada niatan untuk merombak ke arah yang lebih baik, permasalahan yang terjadi seperti “para awardee yang ga balik” pasti bakalan terus akan terjadi dan berulang even giving punishment pun mereka juga ga akan takut. 
“Toh kalau punishment-nya denda aku bakal bayar”
“Yang penting hidupku udah terjamin, aku aman”

    Kasus dimana banyak pada penerima beasiswa LPDP yang ga balik setelah mereka selesai study seharusnya menjadi pukulan untuk negara dan menjadi pembelajaran untuk dijadikan bahan evaluasi pemerintah, “Apa yang bisa kami lakukan”, “Apa yang perlu kami perbaiki?”, introspeksi kedalam, ketimbang sibuk mencari kambing hitam kesana kemari. 

    So the question right now daripada “Apa yang bisa kamu lakukan atau kasih ke negara setelah balik lagi ke Indonesia?” kenapa ga “Apa yang bisa negara kasih untuk penerima LPDP yang balik ke Indonesia?”


Komentar

Postingan Populer