Diskusi Agama


Sosial media bagaikan bom atom yang suatu waktu bisa meledak dan menimbulkan peperangan yang dapat memancing kemarahan dari setiap individu. Dari yang awalnya biasa saja hingga muncul suatu permasalahan yang sebenarnya tidak terlalu kompleks justru malah menjadikannya kompleks.

Ada dua hal yang sangat sangat sangatttt sensitive untuk dibicarakan atau bahkan disinggung akhir-akhir ini,yang pertama masalah politik, yang kedua agama. Kali ini saya akan menyingung mengenai agama.

Jaman sekarang ini, agama yang seharusnya menjadi pilihan untuk pribadi masing-masing, seakan-akan  malah menjadi milik kepentingan bersama. Agama kamu mengajarkan untuk berbuat demikian. Ya sudah, kamu harus melalukan yang demikian juga. Kalo kamu melakukan hal yang berbeda itu salah, ga bener. Padahal belum tentu lho orang itu benar-benar salah, bisa saja itu benar dihadapan-Nya tapi kita saja yang kurang tahu.

Maaf ya, bukankah kebenaran sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu? kita tidak tahu apa amalan kita memang benar dihadapan-Nya atau malah salah. Bisa saja kita yang sepertinya sudah mengerjakan semua yang diperintahkan dengan baik dan benar ternyata itu salah. Bahkan sebaliknya, sesuatu yang kita anggap salah malah mendapatkan pahala. Terkadang saya merasa semakin bertambah tua usai kita, bukan membuat pemikiran kita bertambah dewasa, justru sama seperti anak sd yang masih berpikiran pendek. Manusia jaman sekarang seolah-olah menjadi juri untuk manusia yang lainnya. Bukankah jika berpikiran seperti itu malah membuat kita lupa bahwa yang menentukan benar dan tidaknya suatu amalan setiap manusia merupakan hak Tuhan Yang Maha Kuasa? Jika kalian masih mempermasalahkan mengenai hak kita, bukankah hak kita hanya mengingatkan? Selebihnya? Biarkan individu itu yang memilih, setidaknya kita sudah mengingatkan, kita sudah menunaikan hak kita di hadapan Tuhan. Tapi, dalam mengingatkan sesamapun juga harus ada batasannya, jangan sampai niat kita dalam mengingatkannya malah menimbulkan suatu permasalahan yang sampai memancing kemarahan yang lain dan menjadikannya ramai diperbincangkan.

Islam merupakan agama yang damai. Dalam islam sendiri kita tidak diajarkan untuk saling melawan. Untuk masalah amalan ataupun segala perbuatan yang setiap individu lakukan, itu hak mereka. Disini kita hanya meluruskan apabila ada yang salah dengan orang tersebut, dan menegurnya dengan cara yang baik tanpa melibatkan khalayak ramai yang dapat memancing terjadinya permasalahan.

Kemarin saya menengok di Story IG milik seseorang (yang tidak usah disebut namanya). Hal ini yang memancing saya untuk akhirnya menulis mengenai hal yang menurut saya sangat sensitive ini. Dalam storynya sebut saja si mba ini berpendapat mengenai bagaimana dia mendapatkan komentar yang kurang menyenangkan dari salah satu sebut saja pendakwah muda, yang mana si pendakwah ini berkomentar bahwa dirinya merasa si mba ini seperti meragukan bahwa islam adalah agama yang paling benar dalam akun salah satu social medianya. Setelah saya melihat dan menelaahinya.

Sebenarnya apa yang si mba ini utarakan menurut saya pribadi tidak ada yang salah. Justru si mba ini menjelaskan bahwa kita tidak perlu membandingkan antara agama yang satu dengan agama yang lain bahkan sampai menjelek-jelekan. Si mba ini justru menjelaskan, dalam beragama cukup kita mendalami agama kita masing-masing tanpa harus membandingkannya dengan agama yang lain, bahkan sampai menjelek-jelekkannya.

Lakum Diinukum wa Liya Diin, agamamu-agamamu agamaku-agamaku. Mengenai si mas pendakwah ini, entah bagaimana cara dia menangkap perkataan dari si mba ini, entah bagaimana si mas ini juga menyerapi perkataan ataupun menelaahinya. Tapi menurut saya pribadi, yaa sah-sah saja si mas ini untuk berpendapat. Toh kita sebagai individu juga punya hak untuk mengutarakan pendapat masing-masing. Hanya saja yang sangat disayangkan dari si mas ini yang pertama adalah perkataannya dalam sosial media, si mas ini kurang bisa menyaringnya sehingga untuk menjadi konsumsi publik rasanya kurang pantas. Yang kedua, mas ini adalah seseorang yang mengaku dirinya seorang pendakwah islam tapi kurang dalam memberikan contoh yang baik untuk follower-followernya di sosial media.

Sosial media itu luas, sekali kita memposting, bukan hanya satu tapi ribuan bahkan jutaan manusia akan menyaksikannya. Sekali kita menyebarkan sesuatu yang kurang baik, berjuta-juta manusia akan menyaksikannya. Berpikir sebelum memposting. Mungkin itu kalimat yang tepat di jaman serba canggih saat ini.  Boleh saja berkomentar tapi tahu batasannya. Dan berpikir sebelum bertindak. 


Komentar

Postingan Populer