Hitam dan Putih


Mereka memang tak sewarna, tak senada, tak juga searah. Dua warna yang jauh berbeda. Ibarat mata aingin hitam berarti timur dan putih berarti barat. Saya tau tulisan ini mungkin terdengar terlalu absurd untuk dibaca. Tapi entah mengapa saya ingin membahas tentang dua warna itu. Mereka berbeda, kita tau itu. Dari perbedaan mereka, ada satu hal unik yang selalu muncul dalam pikiran saya. Dari mereka bisa muncul warna baru, warna abu. Jika dipikirkan, itu merupakan satu hal yang unik. Dari perbedaan mereka, dari kekurangan juga kelebihan yang mereka masing-masing punya, mereka bisa memunculkan sesuatu yang baru, warna yang baru.

Dari hal itu bukankah seharusnya kita bisa menyimpulkan, bahwa perbedaan itu SEBENARNYA sangat indah(?) Bukankah perbedaan itu bukan berarti suatu hal yang negatif atau mungkin menjijikan (?) Dari perbedaan itu bukankah kita bisa belajar mengenai sesuatu yang baru. Sesuatu yang mungkin belum pernah kita jumpai sebelumnya. Dari perbedaan itu bukankah bisa menjadi sarana kita untuk belajar dan menggali sesuatu yang baru.

Indonesia,  memiliki satu tonggak pemersatu yang sudah tidak asing ditelinga, BHINEKA TUNGGAL IKA kalimat sakral yang mampu membuat Indonesia yang memiliki beragam suku, bangsa, budaya, kepercayaan, dan daerah menjadi satu kesatuan dalam kata INDONESIA. Hal yang mebuat saya selalu jatuh cinta dengannya. Bukan hanya keindahan alamnya, tapi juga keragamannya. Mengelilingi Indonesia bahkan sampai kepelosoknya merupakan sebuah impian terbesar saya untuk bisa lebih mengenalnya. Tak usah muluk-muluk ke luar negeri cukup Indonesia.

Ehem, kembali ke topik. Tapi jika dipikirkan lagi, diera globalisasi ini, dijaman smartphone yang mulai menjamur, wifi, internet yang meraja lela. Dijaman yang katanya milenial ini. Perbedaan tak lagi seindah bunga yang baru saja mekar. Perbedaan seakan manjadi momok yang mengerikan yang sewaktu-waktu bisa meledak dan dapat memunculkan suatu konflik. Social media seakan menjadi wadah yang pas untuk menampung semua komentar-komentar kotor para budak sosial media. Tak pandang bulu, siapapun yang berkomentar dan tak senada, menjadikannya potensi yang besar untuk menimbulkan suatu konflik. Masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dalam sekali kecap, justru berbuah menjadi berjuta-juta kecapan. Entah itu efek samping yang diberikan dari dunia sosial media atau memang sifat dasar dari manusia sendiri yang kurang bisa menerima adanya perbedaan.

Yin dan Yang filosofi Tioghoa yang menurut saya secara pribadi memiliki makna yang dalam. Konsep filosofi yang mampu menggambarkan bahwa dari perbedaan yang saling berlawanan tapi mereka tetap bisa berhubungan dan bisa saling menguatkan bahkan membangun antara satu sama lain. Sesuatu yang menggambarkan bahwa tidak selamanya hitam dan putih itu berlawana. Bahwa perbedaan itu tidak melulu tentang konflik. Dari perbedaan itulah kita belajar tentang sesuatu yang baru. Belajar untuk bisa menerima hal yang baru walau mungkin kita tidak terbiasa. 

Tuhan menciptakan perbedaan itu adalah suatu anugrah yang luar biasa. Bukan sarana untuk kita saling berdebat, tapi saling belajar dan menerima.
 

Komentar

Postingan Populer